Tiba-tiba saja aku sekarang berada di sebuah ruangan yang penuh nuansa putih, tapi aku tidak suka, entah kenapa aku paling benci segala sesuatu yang berwarna putih sejak ayahku yang paling ku sayangi meninggal dunia 2 tahun yang lalu.
Sekilas kulihat begitu banyak orang yang juga berbaju putih sedang mengerumuni aku sambil berbicara yang aku sendiri tidak mengerti, ada pula yang sibuk mondar-mandir sambil terus memantau benda yang berisi cairan yang terhubung ke tubuhku. Smar-samar kudengar apa yang mereka bicarakan.
“ sepertinya keadaannya parah dok, virus itu telah menyebar luas ke seluruh jaringan tubuhnya “ salah satu orang berbaju putih itu berbicara pada orang baju putih yang lain.
“ kau benar, memang tipis sekali harapannya untuk tetap hidup lebih lama lagi, tapi kita tak boleh menyerah, hidup mati manusia itu berada di tangan Tuhan, kita berusaha saja” kata orang baju putih yang lain.
Tuhan…siapa itu? oh…aku mencoba membuka memoriku, ah ya..aku baru ingat, Tuhan adalah yang telah mengambil kebahagiaan dalam hiudpku, Dia yang telah tega mengambil hidup ayahku, ayah yang begitu mencintaiku, ayah yang tak pernah lelah mengurusku, bahkan dibandingkan dengan ibuku, aku lebih menyayangi ayah, tapi semua kemudian direnggut oleh Tuhan. Sejak itulah aku benci Tuhan. Selanjutnya memoriku kembali terbuka dan kemudian menelusuri jalan hidupku.
Sejak ayah meninggal, kehidupanku berubah drastis, aku kehilangan pegangan, aku kehilangan panutan, meski masih ada bunda yang menemaniku, tapi aku tetap saja merasa hampa, meski bunda kerap berusaha mengubah posisinya sebagai ibu sekaligus sebagai ayah, tapi tetap saja aku merasa kosong sampai kemudian aku lari, aku berusaha mencari sesuatu yang dapat mengisi hidupku kembali, aku tidak peduli dengan bunda yang begitu cemas memikirkan aku. Lari..lari, itulah yang kulakukan, sampai akhirnya aku bertemu dengan orang-orang yang “memahami” penderitaanku, mereka kemudian mulai mengisi kehampaan hidupku, mula-mula mereka memperkenalkan aku dengan benda kecil seperti obat yang apabila aku meminumnya, benda itu akan dengan senang hati membawaku terbang, sampai aku bisa melupakan masalahku, itu yang “teman-temanku” katakana. Iya..mereka benar, benda yang sangat kecil itu mampu membuatku terbang, aku merasa tenang seolah semua bebanku hilang, tapi sayangnya, benda itu tidak bisa lama membawaku terbang, aku jadi “ketagihan”, smapai aku sangat bergantung pada benda itu, kalau sehari aku tidak bersamanya, aku seperti mayat hidup. Bahkan untuk memperolehnya, aku rela menjual..mulai dari harta yang kubawa sampai..kehormatanku sendiri! “Teman-temanku” memang baik, itulah yang ada dipikiranku, begitu pula dengan benda kecil yang selalu menyertai langkah hidupku. Sampai akhirnya, saat itu aku “sakaw”, aku tidak punya uang untuk mendapatkan benda kecil kesayanganku itu, aku minta ke “teman-temanku” tapi mereka hanya tertawa..ah tidak..bagaimanapun aku harus mendapatkan benda kecil itu. karena “prihatin” melihat keadaanku, mereka kemudian membawaku kepada seorang lelaki yang kelihatannya konglomerat, sudah tua, mungkin sebaya dengan ayahku jika masih hidup. Tanpa pikir panjang, aku langsung mau “bermain” dengannya dengan bayaran yang kutentukan sendiri. Rupanya dari lelaki itu, drama hidupku berubah, aku baru tahu jika lelaki tua itu ternyata mengidap virus HIV/AIDS, penyakit yang sangat mematikan sampai sekarang tidak ada yang bisa membuat penawarnya, itu yang kuingat saat aku belajar biologi disekolah SMA-ku dulu. Dia sudah menularkan virus itu ke tubuhku, hal itu kusadari saat aku merasakan keanehan pada tubuhku, sampai kemudian dengan sangat terpaksa, aku pergi ke dokter, dan memang diagnosa dokter memvonis aku positif terkena virus HIV/AIDS!
Tidak ada yang bisa kulakukan, bahkan benda kecil kesayanganku tidak mampu lagi membawaku terbang, sampai kemudian aku jatuh, aku tidak kuat lagi menahan derita hidup seperti ini. Saat kulihat didekatku ada pisau, langsung saja kuambil dan kuiriskan ke urat nadi tanganku..aku tidak sanggup hidup lebih lama lagi, dan kemudian aku tidak tahu lagi apa yang terjadi padaku sampai saat ini aku berada di ruangan serba putih ini.
“ Ada apa dengan kamu nak…kenapa hidupmu harus seperti ini”? Bundaku terisak saat melihat kondisiku..oh Bunda, kau memang baik, entah sudah berapa lama aku pergi meninggalkanmu…
Dengan penuh kasih sayang, bunda membelai rambutku..terasa sejuk sekali, aku baru sadar, sudah lama aku tidak membiarkan bunda melakukan ini, dulu ayahku juga sering melakukannya, dan aku paling tidak bisa tidur kalau ayah tak membelai rambutku.
Bunda kemudian melantunkan sesuatu yang sepertinya tidak asing bagiku..ah ya..aku baru ingat, lantunan bunda berasal dari kitab suci yang sudah lama tak pernah kusentuh..Al Qur’an. Betapa tenangnya hatiku saat mendengar ayat-ayat cinta dari Tuhan itu..ah kembali memoriku terbuka..Tuhan itu adalah Allah. Kukira selama ini hanya benda kecil kesayanganku yang mampu memberikan ketenangan bagiku..entah dimana dia sekarang. Bahkan “teman-temanku” juga tak tampak, entah kemana mereka sekarang.
“dia masih punya harapan hidup dok..meski mungkin hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan” kata orang baju putih lagi. Beberapa orang baju putih itu kemudian berbicara apda bunda, dengan senyum yang berkembang, bunda mengatakan bahwa aku masih punya sisa hidup 3 bulan lagi. Ya…3 bulan akan menjadi tempo bagiku untuk kembali merubah kehidupanku, kembali pada statusku sebagai hamba Allah, menjadi anak yang berbakti, menjadikan sisa waktuku ini untuk kembali merenda hidup bersama bundaku yang baru kusadari betapa cintanya melebihi ayahku selama ini. Ya..dengan begitu ketika aku mati..aku berhasil melaksanakan tugasku dengan sebaik-baiknya.
Selasa, 20 Januari 2009
Langganan:
Postingan (Atom)